Jakarta, Traveling

Jakarta Oh Jakarta

Jakarta
Baru tiba naik bajaj menuju jemputan

Siang-siang Hp saya berbunyi, dan saya harus ke Jakarta besok lusa untuk menghadiri sebuah undangan. “Hah, Jakarta???”, saya berteriak di kamar kos 4×5 meter. Jakarta, ibu Kota Indonesia yang terkenal macetnya parah ampun-ampunan.

Sore hari, dengan berat hati saya pergi ke stasiun untuk membeli tiket ke Jakarta. Oke, fine. Tiket sudah di tangan. Besok siang saya harus ke Jakarta. Saya langsung balik ke kos buat persiapan apa aja yang harus dibawa.

 “Ahh.. ada apa sih di Jakarta, semua serba mahal, macet, tapi saya harus ke sana”, saya berguman sambil mengendarai motor.

Pikiran tentang Jakarta terus ada sepanjang perjalanan sampai kos.

***

Hari ini, jadwal saya berangkat ke Jakarta. Saya berjalan menuju stasiun dengan membawa tas punggung kesayangan. Stasiun Tawang, 11.45 WIB, lima menit lagi jadwal kereta Argo Anggrek berangkat, saya langsung melangkah masuk ke dalam kereta. Saya duduk di gerbong E1 no 9A dan mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Tiba-tiba pikiran tentang keruwetan Jakarta kembali melintas dibenakku. Ah, saya malas memikirkannya lagi, lalu saya pasang headset dan ku putar lagu-lagu untuk menemaniku sampai ke Jakarta. Tak lama setelah itu sayapun tertidur.

***

Beberapa saat kemudian saya pun terbangun, ternyata kereta akan segera sampai di stasiun Gambir. Segera kulepas headset yang sedari tadi menempel di telinga saya. Turun dari kereta saya langsung menghubungi teman yang ada di Jakarta. Namanya Nuril. Ia bekerja di Jakarta. Rencananya saya dijemput Nuril jika sudah sampai di Jakarta. Nuril memberitahu saya kalau dia terjebak macet menuju stasiun Gambir, namun dengan segera dia mengusulkan tempat bertemu agar dia bisa mengantarkan saya ke penginapan.

Rumah Sakit Islam Jakarta di cempaka putih jadi tempat bertemu saya dan Nuril. Segera saya mencari taksi untuk menuju ke sana.

Ada banyak taksi, warna biru, putih dan hijau. Setelah saya mencoba bertanya beberapa taksi, harga yang ditawarkan berbeda-beda walaupun tujuannya sama. Sudah tentu saya memilih harga paling murah.

Saya naik taksi berwarna biru. Meskipun taksi ini bukan taksi kepercayaan, tetapi saya mencoba menaikinya. Selama perjalanan hanya kemacetan yang saya lihat. Kanan kiri macet, belum lagi suara klakson yang tanpa henti. Berisik!

Saya mencoba mengobrol dengan sopir taksi. Ia berasal dari Cirebon, mencoba mencari nafkah di Jakarta. Padahal di Cirebon, dia mempunyai usaha yang lumayan banyak, tapi dia memilih ke Jakarta untuk bekerja.

Tak lama setelah itu, bunyi keras membuat saya terkaget. Ternyata bunyi dari mesin AC yang meledak. Bapak sopir taksi itupun segera minta maaf kepada saya karena tidak bisa melanjutkan perjalanan. Saya pun turun dari taksi.

Dengan wajah bersalah sopir taksi tersebut menjelaskan kenapa mesin AC meledak, dan saya diminta membayar taksi hanya 50% dari yang disepakati. Kemudian bapak sopir taksi itu memanggil bajaj yang tak sengaja lewat di depan kami. Ia nego harga dengan tujuan yang telah saya berikan sebelumnya.

Kesal juga sih, sudah bayar mahal malah disuruh ganti bajaj, huahahahaa. Enjoy Jakarta!

“Macet lagi macet lagi” kata-kata yang pas buat Jakarta.

Saya naik bajaj, jalan keliling menuju RS Islam di cempaka putih. Horey. Macet dimana-mana. Lalalala…. macet lagi macet lagi. Eh, tapi enak naik bajaj, sopirnya ngebut kayak naik motor. Bisa selip kanan bisa selip kiri. Tak lupa saya tanya dari mana asalnya, ternyata dari Tegal.

Saya nyanyi sepanjang perjalanan, tak terasa sopir bajajnya nyeletuk, “nyanyi apa mbak? Ancur banget. hahaha”, sambil dengan logat Tegalnya itu tuh.

 “Mix modern Mas, tau mix kan? Lagu yang di campur-campur gitu.”, jawab saya ngaco.

Kemudian kami sama-sama tertawa.

***

Saya tiba di tujuan yang ditentuin Nuril, dia sudah menunggu saya di depan. Kemudian saya bersama Nuril segera naik ke mobil untuk menuju penginapan. Perjalanan macet lagi. Andai ni mobil bajaj, pasti sudah sampai. Seruku dalam hati.

Sampai di penginapan, Nuril pamit langsung pulang ke rumah. Saya menuju kamar dan tidur. Capek bo’.

***

Sarapan sederhana roti dan kopi
Sarapan sederhana roti dan kopi

Pagi harinya.

Huaaahh.. uda di Jakarta tepatnya di Jakarta Selatan, di Pondok Labu. Saya harus menghadiri acara jam 10.00 WIB. Saya segera lihat jam yang menujukkan pukul 08.00 WIB. Saya langsung mandi dan bersiap diri. Sarapan di hotel, minum kopi yang masih panas dan mengepul. Hmmm… aroma kopi..

Pikiran tenang sambil minum kopi di pagi hari, ditambah di depan mata saya ada kolam renang. Ahh rasanya pengen nyebur aja. Sial! saya nggak bawa pakaian renang lagi!!. Bego’.

Ya udah deh, saya milih makan saja.

Makan pagipun saya santap dengan lahap. Enaaak…

Pagi yang cerah. Sudah habis sarapan, kopi juga habis, saatnya berangkaaat….

Menuju lokasi dengan berjalan kaki, melewati pasar, universitas dan terminal. Jalan kaki menuju lokasi di pagi hari, senyum karena senang belum merasakan macet di daerah situ.

***

Jam 14.00 WIB selesai acara saya menuju hotel. “Perjalanan selanjutkan akan dimulai, hahaha.. acara bebas euy”, saya teriak dalam hati.

Saya menentukan Kota Tua sebagai tujuan hari ini, saya tanya pegawai hotel rute kendaraan yang harus saya tumpangi.

Bis 610, kendaraan pertama yang akan mengantarkan saya menuju Kota Tua Jakarta. Saya naik bis itu, cuma saya yang baru duduk di bis itu. Perasaan was-was tiba-tiba menghantuiku. Tapi saya mengakalinya dengan style sporty, saya memakai topi hitam, tas punggung yang ku taruh depan dan pakai penutup mulut. Uda keren kan? hahaha. Keren kayak penyusup maksudnya!

Kemudian banyak penumpang lain yang berdatangan, ada ibu-ibu, bapak-bapak, tua maupun muda. Setelah itu lanjutlah mereka berbicara. Saya mendengarnya. Gimana nggak kedengeran, mereka ngomongnya kenceng amat.

Mereka orang Bekasi dan Depok, bicara tentang sopir metro mini kadang dengan seenaknya nurunin orang. Padahal belum sampai tujuan, belum lagi sopir metro mini itu males kalau kejebak macet.

“Kalau males macet, ngapain tetep kerja di Jakarta ya?”, seruku dalam hati.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Tua ada beberapa yang harus dilalui, dari naik metro mini 610, saya harus turun di Blok M ganti naik trans Jakarta menuju Kota Tua. Di dalam metro mini, banyak pengamen yang datang dan pergi dengan pakaian compang camping, dan logat yang berbeda. Sepertinya mereka pendatang. Perjalanan di metro mini ini, saya nikmati. Meskipun cuaca panas, di tambah lagi didalam metro mini juga panas, tapi saya enjoy. Permen karet saya kunyah, dan saya nikmati kemacetan kali ini.

Hahay, sejak kapan saya menikmati kemacetan, hmm yang jelas sejak acara bebas. Saya senyum simpul sambil menguyah permen karet.

“Blok M, Blok M”, seru sopir metro mini.

“Ya bang.” jawab saya sambil menuju ke sopir metro mini untuk membayar dan saya langsung turun.

Saya nikmati tiap langkah menuju halte trans Jakarta, banyak penjual di kanan kiri, di jalan, maupun di anak tangga perjalanan ke halte. Sampai di depan loket, saya akan mengeluarkan uang untuk naik trans Jakarta. Eh ternyata sekarang nggak ada.

Sekarang semua pakai kartu, ya udah saya beli tuh kartu terus saya isi ulang. Bayar trans Jakarta cuma empat ribu rupiah. Murah kan?

Ternyata enak naik trans Jakarta, selain murah, bebas macet, bebas pengamen, dan adem. Kota Tua menjadi tujuan pertama saya.

Kota tua
Kota tua

***

Kota Tua, lagi-lagi banyak penjual di sisi kanan dan kiri. Bangunan-bangunan tua ada di sini, banyak museum juga. Sayang, saya ke sini sudah pada tutup. Saya duduk dipaving blok sambil dengerin musik yang ada di Kota Tua. Sejumlah anak band telah mempersiapkan alat musiknya dan memainkan lagunya. Sore hari menjelang malam, lagu-lagu yang dimainkan membuat saya betah duduk berlama-lama. Sekeliling di tempat ini, banyak yang bersama pasangan, keluarga maupun bersama teman-teman. Ada yang naik sepeda mengelilingi Kota Tua, ada yang berfoto selfie, ada juga yang hanya duduk sambil dengerin musik.

Lama-lama saya lapar. Segera saya mencari makanan yang ada di dekat sini, saya menemukan soto mie. Kata penjualnya sih dari Bogor, ya sudah saya coba dan makan. Rasanya enak, sedikit pedas. Saya makan soto mie, sambil lihat pengamen di depan mata. Pengamen itu cukup kreatif, membuat alat yang sederhana menjadi drum, bass, dan gitar. Masih muda, tampan. Sepertinya masih mahasiswa. Lagu-lagu yang dinyanyikan lagu mancanegara. Ecie, pengamen gaul, hehehe. Cakep!

***

Soto mienya habis, segera kembali duduk dipaving blok untuk dengerin musik. Lalu saya mencoba menghubungi teman yang di Jakarta. Ternyata sms saya dibalas. Candra namanya, teman SMA yang sudah lama di Jakarta. Jam 8 malam dia mengajak saya ketemuan di Senayan City. Lalu saya lihat jam. Tak terasa sudah jam 7 malam, 3 jam saya berada di Kota Tua.

Saya berjalan meninggalkan Kota Tua menuju halte Trans Jakarta. Jalan kaki dan menikmati sekeliling. Ada satu pemandangan yang terus menarik saya untuk melihat. Sepasang suami istri, nenek dan kakek. Mereka sedang minum es di pinggir jalan dengan makan seadanya. Miris. Jakarta dengan kota yang megah, hidup yang keras, tetapi sepasang suami istri itu masih bertahan di kota ini dengan keterbatasan.

Kesenjangan sosial nyata di sini. Mobil mewah terlintas di depan saya,

sedangkan sepasang kakek nenek berjalan kaki dengan tongkat ada disamping saya.

Inikah Jakarta?

***

Saya melanjutkan perjalanan menuju Senayan City naik trans Jakarta, samping kanan dan kiri tempat duduk saya, semua pada main HP. Hening. Mungkin mereka butuh hiburan saat pulang kerja. Sepanjang perjalanan saya lihat ke luar banyak gedung tinggi di Jakarta, restoran mewah, mobil mewah. Lalu sepasang kakek nenek terlintas dipikiranku, bagaimana kehidupan mereka di Jakarta. Sayapun ikut terdiam sambil menunggu sampai di halte Senayan City.

Sampai di halte Senayan City saya turun untuk menemui Candra. Nunggu lumayan lama, sayapun mencari makanan disekitar. Laper.

Turun tangga, eh ada yang jual batagor. Sikat aja dah.

Candra memberitahukan kalau dia sudah di halte. Saya berjalan menemui Candra dengan satu tangan kiri membawa batagor, mulut mengunyah batagor dan tangan kanan membawa jaket merah. Ditambah lagi muka kusam karena seharian sudah berkeliling. Cakep dah!. Cuek aja ah, hahaha..

“Hei”, sapa saya.

“Ayok nongkrong dulu”, ajaknya.

Kemudian kami berjalan menuju sevel. Duduk berjam-jam, senda gurau, dan ternyata ni anak bisa wujudin apa yang dulu sudah menjadi impiannya. Salut. Satu kata yang terlintas dalam pikiranku. Cita-cita sejak SMA, pelan-pelan bisa diwujudin sama dia. Dia bercerita tentang pengalaman kerjanya, tentang travelingnya, tentang semua impiannya. Teratur.

Saya mendengarkan semua cerita dia, dan dengan kenarsisanku, dia saya ajak foto.

“Can foto yuk”, rayu saya sambil nyengir.

“Ogah”, jawabnya.

Masa bodoh, langsung aja saya ambil kamera, sodorkan depan muka kami, lalu klik. Jadilah foto narsis kami. huahahhaa… senang!.

Dering Hp saya tiba-tiba berbunyi, kulihat layar HP, ternyata Rahmi menelepon. Rahmi, teman saya di Jakarta yang sudah menunggu di penginapan.

Jam 22.00 WIB, tak terasa udah malam. Saya pamit ke Candra untuk kembali ke penginapan. Candrapun mau mengantarkan saya sampai penginapan. Wah..

Perjalanan menuju penginapan, saya berpikir. Butuh usaha keras untuk mewujudkan cita-cita. Candra, Jerry, beberapa teman SMSaya yang selalu memotivasi saya. Saya senang bisa bertukar pikiran dengan mereka. Candra yang jatuh bangun usahanya, tetapi masih bisa bertahan di Jakarta dan bangkit lagi. Hmm.. Jakarta, kemauan keras dan kerja keras bisa menjadi gambaran lain dari Jakarta.

***

Di penginapan. Saya langsung menemui Rahmi. Dia sudah tidur di kamar, kemudian saya menemui Candra. Kami janjian buat keesokan harinya untuk pergi bersama, jam 1 siang kami bertemu di Dufan. Yah.. akhirnya Dufan menjadi tempat ketemuan kami.

Candra kemudian pulang dengan motornya, dan saya langsung ke kamar untuk tidur. Hari ini banyak pengalaman yang saya dapatkan. Sepasang nenek dan kakek, dan cerita sahabat yang mampu memotivasi saya.

Segera saya lupakan macet dan bisingnya Kota Jakarta, sayapun tidur terlelap.

***

Narsis di Dufan hahaha
Narsis di Dufan hahaha

 

Dufan.

Saya dan Rahmi menuju Dufan di pagi hari setelah sarapan pagi naik trans Jakarta. Banyak anak-anak muda yang menuju Dufan. Style sporty saya membuat nyaman ketika berjalan menuju Dufan. Topi dan tas punggung, selalu menemaniku. Kami masuk ke trans Jakarta, duduk depan.

Saya melihat sopir trans Jakarta kelelahan saat bekerja. Terlihat dari cara setirnya, sering menguap, dan jalannya pelan bingits. Waduh, bahaya juga nih. Saya amati aja tu sopir sambil baca doa, hehee.

Jam 1 tepat, saya dan Rahmi sudah di Dufan. Mbolang, naik wara wiri 2x muter di kawasan Ancol kaya orang bego’. Lalu, kami akhirnya memutuskan turun ke Dufan.  Kami lelah, kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan di area Dufan.Saya kemudian tertidur. Rahmi yang dari tadi disamping saya sedang sibuk menelepon rekan kerjanya, membiarkan saya tidur pulas di kursi itu.

Setelah saya bangun, saya jalan-jalan melihat pemandangan sekitar. Di Fantastiq, saya melihat sekeliling. Sejuk, banyak pohon, banyak tempat yang teduh. Saya duduk, dan melihat anak kecil sedang berlarian. Mereka bukan dari Indonesia, tapi dari Korea.Logat Korea yang khas membuat saya mengamati tingkah lucu anak kecil itu. Saya lihat jam yang menunjukkan pukul 3 sore, saya menghubungi Candra. Mereka baru tiba di Dufan. Oh my God!!

Segera saya menghampiri mereka yang berada di Dufan. Mereka datang bertiga, ada Yusuf, Candra dan Anggi. Kemudian kami mengobrol bentar, dan seperti biasa, narsis hehehe..
Ngobrol dengan teman seru juga, tak terasa waktu sudah hampir malam, kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang

***

Trans Jakarta menuju penginapan. Saya hari ini menginap di jl. Juanda, daerah Gambir. Di dalam trans Jakarta, saya dan teman-teman gak dapet tempat duduk. Terpaksa kami berdiri. Banyak anak muda yang duduk di trans Jakarta. Tiba-tida ada kakek masuk trans Jakarta. Kakek itu berdiri di sampingku, pakai baju hijau dengan rambut yang sudah putih.
“Kek, kakek turunnya dimana? masih lama?” tanya saya kepadanya.
“Udah deket kok dek”, jawab kakek sambil tersenyum.
Gak lama setelah itu, saya melihat anak muda yang lagi duduk. Spontan aja saya minta tolong anak muda itu untuk berdiri.
“Maaf mas, bisa minta tolong berdiri, buat kakek ini”, rayuku sambil menunjukk kakek sebelah kananku.
Segera anak muda itu berdiri.
“Kek, silahkan duduk”, saya berbicara kepada kakek itu sambil menunjukkan tempat duduknya.
“Terima kasih dek, kakek berdiri saja”, senyum kakek itu.

Kurang 1 halte lagi saya sampai. Saya lihat tempat duduk yang kosong tadi ternyata udah diisi sama perempuan muda lainnya. Saya terdiam.

“Apakah tingkat kesadaran terhadap orang tua nggak ada?”, batin saya sambil turun dari trans Jakarta.

***

Di Hotel, tempat saya menginap, setelah perjalanan panjang satu hari, saya langsung menuju kamar dan mandi sebelum tidur. Besok saya akan pulang jam 7 pagi ke Semarang.

Kemaren dan hari ini banyak pelajaran yang bisa kudapatkan di kota ini.

***

Jam 6 pagi, saya diantar Rahmi ke stasiun Gambir. Kami mengobrol sebentar, lalu Rahmi balik untuk menuju kosnya. Sebelum meninggalkan Jakarta, kembali kuingat kejadian di Jakarta. Kejadian lucu, gila, sedih, dan beberapa yang membuatku berpikir. Kemacetan, bising klakson, mobil mewah, gedung tinggi, kehidupan sosial yang individual dan perantauan. Mungkin itu gambaran umum Jakarta. Dibalik semua itu, Jakarta identik dengan kerja keras dan kemandirian. Yah semua itu bisa menggambarkan Jakarta. Kenapa semua orang suka di sana? Ada apa dengan Jakarta?

***

8 thoughts on “Jakarta Oh Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *