Semarang, Traveling

Senangnya Paham Budaya & Sejarah Jawa Tengah di Ranggawarsita

Ranggawarsita :

“Ketika Museum Bertutur tentang Sejarah dan Budaya Jawa Tengah”

Nafsu jalan-jalan saya sedang menggebu-gebu, tapi bingung mau kemana karena belum ada jatah libur yang panjang untuk pergi jauh. Hmmm…, kemana ya ???

Iseng-iseng saya pun membongkar beberapa koleksi buku dan brosur mengenai wisata, siapa tahu menemukan tujuan yang bisa ditempuh dalam waktu singkat, sekedar untuk memuaskan ‘hasrat’ jalan-jalan. Di antara tumpukan buku dan brosur, ada yang menarik perhatian. Brosur Museum Ranggawarsita…

Brosur yang masih tertutup rapi, maklum, sebelumnya saya nggak pernah berpikir untuk jalan-jalan ke sana. Entah kenapa, kali ini saya pikir-pikir, pergi wisata sejarah dan budaya ke museum seru juga kali ya. Jadi penasaran…

***

Kamis, 2 April 2015

Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke museum Ranggarwasita. Saya mengajak Tita, teman dari Komunitas Couchsurfing regional Semarang, untuk menemani saya jalan-jalan ke museum. 

Museum Ranggawarsita adalah museum terlengkap yang menyimpan berbagai benda warisan budaya Jawa Tengah. Letaknya ada di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 1, Kalibanteng, Semarang. Jaraknya kira-kira 10 menit dari Bandara A. Yani Semarang. Harga tiket masuk museum ini adalah Rp. 4000,- untuk dewasa, sedangkan anak-anak sebesar Rp 2000,-. Murah kan ?

Sesampainya di museum, saya dipandu oleh guide cantik bernama Mbak Atika. Dia adalah guide paling ceria yang pernah saya temui. Antusias sekali menyambut kedatangan saya dan Tita. Jarang-jarang ada pegawai museum yang sesemangat ini 😀

Disambut Gunungan Blumbangan

Sebelum menuju ke sana, pertama kali masuk ke museum, kami disambut oleh Gunungan Blumbangan. Gunungan ini merupakan lambang penyambutan yang biasanya ada di acara wayang, makanya di museum ini Gunungan Blumbangan diletakkan di bagian depan sebagai pembukaan. Gunungan ini melambangkan alam semesta dan menceritakan tentang manusia.

Ada tiga tahap yang digambarkan oleh Gunungan Blumbangan ini, antara lain :

  • Tahap paling dasar, selain menceritakan tentang neraka juga menceritakan tentang sifat manusia yang disimbolkan oleh hewan serigala, monyet dan kerbau. Serigala mencerminkan nafsu, kerbau mencerminkan kekuatan tapi juga pemalas, sedangkan monyet mencerminkan jahil dan rakus.
  • Tahap kedua, dilukiskan dengan ikan dan air yang menceritakan manusia dalam kandungan.
  • Tahap ketiga dilukiskan dengan unggas (ayam, burung merak). Semakin tinggi tahapan manusia diharapkan akan mencapai kebijaksanaan dan keteguhan hati. Artinya bagaimana dalam kemarahan manusia nantinya dapat dikemas dengan suatu kecantikan.

Menikmati Koleksi Museum Ranggawarsita

Koleksi di Museum Ranggawarsita tersimpan di 4 (empat) gedung yang berbeda, yaitu gedung A sampai dengan gedung D. Masing-masing gedung menyimpan cerita yang berbeda. Apa saja? Ini dia nih…

Gedung A (Koleksi Geografika)

Banyak koleksi batu-batuan, termasuk batu mulia sebagai pengasihan, batu meteorit, dan batu akik di dalam gedung ini. Ternyata batu akik sudah ada sejak dulu ya? Baru sekarang booming bingit !

Koleksi batu di Gedung A ini ada yang menjadi unggulan loh, yaitu batu meteorit. Masyarakat Jawa Tengah  menyebutnya “lintang kemukus (bintang yang terbungkus api)”. Batu ini dipercaya sebagai suatu pertanda jika turun ke bumi.

Gedung A juga punya koleksi tentang gunung di Jawa tengah, karena orang Jawa Tengah menghormati gunung sebagai sesuatu yang tinggi, atau tempat tanah para dewa.

Gedung B (Prasejarah)

Gedung B menyimpan koleksi prasejarah zaman purba, di antaranya :

  • Kapak Persegi

Kapak ini banyak ditemukan di Sangiran, Kudus dan Banyumas. Gunanya sebagai alat pemotong.

  1. Stone Ball

Batu berbentuk bulat ini ditemukan di Sangiran, fungsinya untuk melempar buruan.

  1. Flake

Batu ini ditemukan di Sangiran, fungsinya untuk berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan makanan.

Secara garis besar, di gedung B ini menyimpan koleksi seperti fosil hewan, manusia purba, dan alat-alat yang digunakan oleh manusia purba. Selain itu juga terdapat prasasti pertama yang ditemukan di Conggol, Magelang, replika Candi Kalasan, Klaten, serta arca perwujudan arwah nenek moyang. Arca berbentuk arwah nenek moyang ini ditemukan di Salatiga. Masyarakat Jawa Tengah mempercayai nenek moyang ini mempunyai hidung simetris berbentuk siku. Nah loh, bagaimana mereka tahu bentuk arwahnya ya? Hiii.. misterius.. 😀

Gedung C (Masa Islam dan Perjuangan Bangsa)

“Sekarang Dhev, kita menuju Gedung C”, kata mbak Atika.

“Wiiihhh, ruangannya adeem, pakai AC,” seruku girang karena dari tadi sebenarnya merasa gerah.

“Iya, Dhev, karena gedung ini baru saja di renovasi. Sekarang kita menuju ke masa Islam dan perjuangan bangsa,” terang Mbak Tika.

Gedung C memiliki dua koleksi. Pertama, masa Islam di Jawa Tengah. Kedua, masa perjuangan bangsa. Pada koleksi masa Islam, terdapat miniatur Masjid Kudus, Masjid Agung Demak, Al-Quran dari Kota Surakarta yang dibuat pada awal abad ke-19, dan Relief Masjid Mantingan, Jepara.

Sementara itu pada masa Perjuangan Bangsa terdapat miniatur pertempuran Ambarawa, penumpasan PKI di Cepu Tahun 1948, pertempuran lima hari di Semarang tanggal 14-19 Oktober 1945, dan yang paling besar tempat miniaturnya adalah masa Presiden Soeharto. Tempat miniatur masa Presiden Soeharto ini menceritakan adanya penyerahan bendera Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto kepada Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam pada tahun 1980.

Penjelasan oleh Mbak Atika di Gedung C ini berakhir di depan koleksi bernama Genta (the bell ) dari Kabupaten Cilacap. Sebelum lanjut ke Gedung D, Mbak Atika terlebih dulu mengajak saya dan Tita untuk menuju ruang emas.

Ruang Emas

Banyak banget koleksi emas di ruangan ini, mulai dari perhiasan kepala, kalung, kelat bahu, sampai dengan perhiasan yang digunakan untuk prosesi perkawinan. Widiih…

Setelah melihat-lihat koleksi emas, kami langsung menuju Gedung D.

Gedung D (Koleksi Hibah)

Berdasarkan penjelasan Mbak Atika, koleksi di Gedung D adalah bentuk apresiasi dan partisipasi masyarakat kepada budaya di Indonesia. Tengok kanan kiri, ternyata koleksi hibah di ruangan ini banyak juga yahh… 😀

Selain keris, alat persenjataan dan budaya adat Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DIY, ada juga mata uang yang lengkap di sini. Selain itu masih ada koleksi alat kesenian juga. Waoooww…!

Special Room

Kunjungan ke Museum Ranggawarsita kali ini terasa spesial karena Mbak Atika mengajak saya dan Tita ke tempat penyimpanan barang yang nggak bisa diakses oleh semua pengunjung. HAAAHHH??? Jadi, saya dan Tita special nih? Cihiyy…!!! Kami pun berjalan ke luar menuju sebuah pintu masuk. Hmm, saya menyebutkan ruangan khusus, karena nggak semua pengunjung museum bisa ke sini, hehee…

Masuk ke gerbang khusus disambut dengan pameran outdoor. Di sini terdapat replika dan batu asli dari jaman dahulu yang dipamerkan di luar ruangan. Melewati pameran outdoor ini, kami lalu diajak mbak Atika menuju beberapa tempat penyimpanan benda-benda koleksi. Mbak Atika menyebutnya ruang deposit satu, dua, dan tiga. Masing-masing ruangan ini ada penanggungjawabnya.

Salah satu penanggungjawab di ruang deposit, yaitu Bapak Khumaidi, menyempatkan untuk memberi penjelasan sedikit mengenai ruang deposit kepada kami.

Deposit 1 : Berisi koleksi-koleksi keramik dan arca.

Deposit 2 : Berisi koleksi-koleksi terbuat dari logam, seperti keris, hiasan ruangan maupun dinding.

Deposit 3 : Berisi bahan organik atau benda yang sempat hidup seperti fosil, wayang, kain, dan kertas. Uniknya di ruangan ini ada sebuah koleksi yang menarik perhatian saya. Permainan Jalangkung! Hiiiii… *mendadak bulu kuduk merinding !!

Pak Khumaidi mengambil mainan tersebut dan kemudian menjelaskan bahwa pada jaman dulu, masyarakat Jawa Tengah menggunakan permainan Jalangkung ini untuk mencari orang yang hilang. Permainan ini menggunakan magic, papan, dan alat tulis. Orang yang hilang pada jaman itu pasti akan ketemu dengan bantuan Jalangkung.

Setelah dijelaskan, saya sedikit lega karena permainan tersebut bukan digunakan untuk sebuah keisengan seperti jaman sekarang. Fiuuhh…

 ***

Selesai sudah jalan-jalan saya di Museum Ranggawarsita. Menyenangkan sekali ditemani oleh mbak Atika. Selain baik, penjelasannya pun lengkap. Satu lagi yang paling saya kagumi adalah sikap sabar dan antusiasnya. Thank you, Mbak Atika 🙂

Hasil jalan-jalan ke museum kali ini benar-benar menambah pemahaman saya mengenai budaya dan sejarah di Jawa Tengah yang selama ini cuma sekedar saya ketahui selewatnya saja. Tahu itu pun ternyata hanya sedikit, hahaha…

Ternyata, jauh lebih menarik ketika kita memahami daripada sekedar mengetahui. Selain dilestarikan, budaya dan sejarah juga perlu dipahami, bukan?

Nah, Ayo ke Museum !

 

Museum Ranggawarsita

Jln. Abdul Rahman Saleh No. 1, Kalibanteng, Semarang, Jawa Tengah

HTM : Rp 4000,- (dewasa) & Rp 2000,- (anak)

 Jam Buka : 08.00 – 15.00 WIB (Senin – Kamis) ; 08.00 – 11.00 (Jumat) ; 08.00 – 14.00 (Sabtu – Minggu)

 

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Blog Competition #TravelNBlog 3”  yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

14 thoughts on “Senangnya Paham Budaya & Sejarah Jawa Tengah di Ranggawarsita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *